Rabu, 14 Desember 2011

NASEHAT PERNIKAHAN

NASEHAT  NIKAH

Ananda berdua, sebentar lagi kalian berdua akan resmi melaksanakan aqad nikah, perjanjian yang menyebabkan kalian berdua mempunyai status baru, sebagai pasangan suami istri secara sah menurut ketentuan agama dan pemerintah.
Ada beberapa hal yang perlu Ananda berdua selalu ingat mengenai status baru itu:
1) Pernikahan adalah ibadah, ia tidak sekedar sebuah upacara untuk mengumumkan kepada publik mengenai status baru kalian. Oleh sebab itu menjadi penting sekali bahwa mualai sejak awal bahwa niat yang tulus Ananda berdua adalah semata-mata selalu meletakkan peristiwa ini sebagai wujud pelaksanaan ketaatan kalian kepada Allah SWT dan RasulNya. Jadi di dalam pernikahan ini ada sebuah amanah,dan tanggung jawab langsung dari Allah dan RasulNya. Tekadkanlah dalam hati Ananda berdua, sejak kini, untuk menjaga amanah ini hingga ajal tiba memisahkan kalian berdua. Ini menjadi amat penting dalam proses kehidupan Ananda berdua selanjutnya. Sebab dengan menempatkan niat dan tekad itu, semoga kiranya Allah SWT selalu berkenan hadir dalam kehidupan Ananda selanjutnya, baik dikala suka maupun disaat duka.
 2) Al-Qur’an mengajarkan kepada kita semua bahwa melalui pernikahan seharusnya terwujud suasana kasih sayang, sebuah kebahagiaan, sebuah oase surgawi di dunia. Keluarga adalah sebuah wahana untuk mewujudkan kebahagiaan bukan yang lain atau sebaliknya. Berkeluarga adalah sebuah komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan. Sungguh tidak mudah mendefinisikan kebahagiaan namun jelas bahwa ia berlawanan dengan kekecewaan, kesedihan, kegelisahan, kelesuan, kegaluan dan sejenisnya. 
Oleh sebab itu cukuplah diberikan 3 indikasi, dalam konteks waktu, tentang hadirnya kebahagiaan dalam hidup seseorang yaitu
Pertama, terhadap masa lalunya ia tidak pernah menyesali atau kecewa berkepanjangan; masa lalu selalu disikapi dengan istighfar dan syukur. Permohonan ampun didasari atas kelemahan manusiawi diiringi dengan keyakinan bahwa Tuhan Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang; rasa syukur yang dilandasi atas kesadaran kuat, bahwa betapapun beratnya cobaan & kesulitan yang dihadapi, namun nikmat Tuhan selalu lebih banyak dibanding itu semua.
Kedua, terhadap tantangan yang dihadapi saat ini selalu disikapi dengan semangat pantang menyerah karena keyakinan bahwa terhadap setiap sebuah kesulitan selalu akan ada pula setelahnya  kemudahan. Cukuplah kesabaran dan ketekunan dalam usaha yang disertai dengan do’a dari kerendahan hati seorang hamba sebagai bekal, yang dalam bahasa Al-Qur’an: jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Ciri ketiga dari hadirnya kebahagiaan adalah bahwa terhadap ketidakpastian masa depan selalu disikapinya dengan optimisme. Jadikanlah kebahagiaan sebagai visi abadi Ananda berdua dalam membangun kehidupan keluarga.
3) Ananda berdua, kebahagiaan adalah nuansa atau karakteristik surgawi dan oleh karenanya kepemilikannya oleh manusia amat tidak disukai oleh Iblis. Sebagai musuh abadi manusia, Iblis akan terus merongrong kebahagiaan yang menjadi milik manusia, anak keturunan Adam, para calon pewaris surga. Dalam hal kehidupan berkeluarga, salah satu benteng terkuat untuk menjaga kebahagiaan dari rongrongan itu adalah kemaafan. Bukalah pintu kemaafan seluas-luasnnya dan selama-lamanya sebab ia akan mencegah masuknya kemarahan, awal dari godaan Iblis dalam menghancurkan kebahagiaan anak-anak Adam. Ini penting untuk selalu diingat karena kalian mempunyai karakteristik  yang unik tidak sama-satu samalainya, lengkap dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing yang melalui pernikahan ini hendak dipersatukan dalam sebuah rumah tangga. Konsekuensinya adalah bahwa kesalahpahaman adalah sebuah keniscayaan. Oleh Sebab itu membuka pintu kemaafan adalah salah satu resep abadi dan ampuh dalam membangun rumah tangga bahagia. Lebih dari itu, kemaafan adalah jalan menuju taqwa: wa ‘anta’fu aqrobu littaqwa, dan kemaafan itu lebih dekat kepada taqwa.
4) Secara umum bahwasanya berdasarkan fitrah manusia, agama mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi kalian masing-masing dalam kehidupan berkeluarga. Sempurnakanlah dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan kalian membangun rumah tangga yang semoga dengan demikian akan dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT. Menurut ketentuan agama, tanggung jawab sebagai kepala keluarga berada dipundak suami dengan tanggung jawab terbesar dan terberat adalah menjaga agar bahtera keluarga selalu berjalan menuju visi abadi: kebahagiaan dunia akherat dan terhindar atas siksaNya kelak.
Teladan mulia bagi istri tentunya adalah Ibunda Khadijatul Kubra, yang selalu memberikan keteduhan, kelembutan, dan juga dorongan yang tiada henti kepada suami untuk tetap istiqomah dalam kebaikan dan keta’atan sehingga betapapun beratnya tantangan dalam rangka menuju visi abadi itu selalu dapat diatasi dengan baik dan penuh tanggung jawab.
Ingatlah selalu oleh kalian berdua bahwa salah satu fungsi pasangan suami istri ditegaskan dalam Al-Qur’an [2:187] adalah seperti pakaian (hunna libaasullakum wa antum libaasullahun): mereka adalah pakaian bagimu dan kamupun adalah pakaian bagi mereka). Fungsi pakaian selain untuk keindahan adalah juga untuk menutupi aurat, maka suami istri harus saling menutupi kelemahan pasangannya. Seandainya kalian melihat kelemahan pada pasangan kalian maka berdoalah agar dibalik kelemahan itu juga ada kebaikan yang tidak terduga.
Ingatlah firman Allah SWT [4:19]: Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
5) Tingkatkanlah bakti kalian kepada Ayah-bunda, yang telah dengan penuh kasih sayang dan kesabaran mengantar kalian hingga ke jenjang pernikahan ini hingga membangun rumah tangga. Sangat penting di ingat bahwa cinta dan kasih sayang beliau kepada kalian tidak akan pernah punag walau kalian kini telah membangun rumah tangga.
Billahi Sabilil Haq ila Aqwamit thoriq
Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar