Selasa, 02 Oktober 2012

PERJALANAN RUH

Kemanakah ruh itu pergi setelah berpisah dari jasadnya (mati). Apakah ruh itu masih di alam dunia ini ? apakah ia mampu menampakkan diri dihadapan manusia ? Untuk mengetahui itu semua, kita memerlukan informasi yang benar, tepat dan meyakinkan kerana permasalahan itu adalah permasalahan ghaib yang mustahil untuk diketahui kecuali hanya jika diberitakan oleh satu-satunya pihak yang mengetahui rahasia alam ghaib iaitu Allah Ta`ala. Dan satu-satunya sumber informasi yang rasmi yang dijamin dan dicadangkan oleh Allah Ta`ala untuk menyampaikan berita-berita alam ghaib tersebut hanyalah melalui utusanNya (rasulNya) Nabi Muhammad Shalallahu `Alaihi Wasallam.


Jawaban-jawaban yang tidak berasal dari beliau Shalallahu `Alaihi Wasallam adalah hanya prasangka dan dugaan semata yang sudah dapat dipastikan bahwa berita tersebut adalah dusta. Oleh sebab itu semua pertanyaan itu pada kesempatan ini akan dijawab langsung oleh Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam dalam sabda beliau berikut ini.

Dari sahabat Al Baraa` bin `Aazib menceritakan: kami keluar bersama Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam untuk menghantar jenazah seorang laki-laki dari kalangan Ansar. Maka kami tiba di pemakaman dan ketika itu lahadnya sedang dipersiapkan. Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam duduk dan kami pun ikut duduk di sekitar Beliau Shalallahu `Alaihi Wasallam dalam keadaan terdiam tak bergerak seakan-akan diatas kepala kami ada burung yang kami bimbang akan terbang. Di tangan Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam ketika itu ada sepotong ranting yang Beliau Shalallahu `Alaihi Wasallam gunakan untuk mencucuk-cucuk tanah. Maka tiba-tiba Beliau Shalallahu `Alaihi Wasallam mendongak kearah langit dan melihat kearah bumi sebanyak tiga kali kemudian bersabda: “hendaklah kalian meminta perlindungan kepada Allah Ta`aala dari azab kubur, beliau mengucapkan itu sebanyak dua atau tiga kali, lalu beliau berdoa : `yaa Allah sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari azab kubur` pinta beliau sebanyak tiga kali”.

Setelah itu beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin ketika akan meninggalkan dunia dan menuju ke alam akhirat, turun kepadanya para malaikat dari langit. Wajah-wajah mereka putih berseri laksana matahari. Mereka membawa kain kafan dan wangi-wangian dari surga. Merekapun duduk dekat si mukmin itu sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut `Alaihissalaam hingga duduk di sisi kepala si mukmin itu seraya berkata: “wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan dari Allah”

Ruh yang baik itupun mengalir keluar sebagaimana mengalirnya tetesan air dari mulut bekas kulit. Maka malaikat mautpun mengambilnya. (Di dalam satu riwayat disebutkan: hingga ketika keluar ruhnya dari jasadnya, seluruh malaikat di antara langit dan bumi serta seluruh malaikat yang ada di langit mendoakannya. lalu dibukakanlah untuknya pintu-pintu langit. Tidak ada satu malaikat penjaga pintu langitpun kecuali mesti berdoa kepada Allah agar ruh itu diangkat melewati mereka). Ketika ruh itu diambil oleh malaikat maut, tidak dibiarkan sekejap matapun berada ditangan malaikat maut itu melainkan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah putih tadi. Maka mereka membungkus ruh tersebut kedalam kain kafan dan wangi-wangian yang mereka bawa, dan keluarlah dari ruh tersebut wangi yang paling semerbak dari aroma wewangian yang pernah tercium di muka bumi ini. Kemudian para malaikat itu membawa ruh itu naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mesti ditanya: “siapakah ruh yang baik ini?” para malaikat yang membawanya menjawab: “Fulan bin Fulan”, disebut namanya yang paling bagus yang dulunya ketika di dunia orang-orang menamakannya dengan nama tersebut. Demikian hingga rombongan itu sampai ke langit dunia. Merekapun meminta dibukakan pintu langit untuk membawa ruh tersebut. Maka dibukakanlah pintu langit. Penghuni setiap langit ikut menghantarkan ruh tersebut sampai ke langit berikutnya hingga mereka sampai ke langit yang ke tujuh. Maka Allah `Azza wa Jalla berfirman: “tulislah catatan amal hamba-Ku ini di `illiyyiin dan kembalikanlah ia ke bumi, karena dari tanah mereka Aku ciptakan, ke dalam tanah mereka akan Ku kembalikan dan dari dalam tanah mereka akan Aku keluarkan pada kali yang lain”.

Si ruh pun dikembalikan ke dalam jasadnya yang dikubur di dalam tanah. Maka sunguh ia mendengar suara kasut orang-orang yang menghantarnya ke kuburnya ketika mereka pergi meninggalkannya. Maka setelah itu ia didatangi dua malaikat yang mendudukkannya dan mereka bertanya kepadanya “siapa Rabb kamu?” ia menjawab: “Rabbku adalah Allah”. Ditanya lagi: “Apa agamamu?”, Jawabnya: “agamaku Islam” jawabnya. “Siapa laki-laki yang diutus di tengah kalian ?” tanya dua malaikat lagi, “Dia adalah Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam” jawabnya. “Apa amalmu” pertanyaan berikutnya, “aku membaca kitabullah lalu aku beriman dan membenarkannya”, jawabnya.

Ini adalah ujian terakhir yang dihadapkan kepada seorang mukmin. Dan Allah mengukuhkannya sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya: “Allah menguatkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kukuh dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat.” (Ibrahim:27).
Kemudian terdengarlah suara penyeru dari langit yang menyerukan: “telah benar hamba-Ku, maka bentangkanlah untuknya permadani dari surga. Pakaikanlah ia pakaian dari surga dan bukakanlah untuknya sebuah pintu ke surga.

Lalu datanglah kepada ruh mukmin ini wangi dan semerbaknya surga serta dilapangkan baginya kuburnya sejauh mata memandang. kemudian ia didatangi oleh pria yang berwajah bagus, berpakaian bagus, harum baunya seraya berkata: “Bergembiralah dengan apa yang menggembirakanmu, ini adalah hari yang pernah dijanjikan kepadamu.”

Ruh mukmin ini bertanya dengan hairan: “siapakah engkau ? wajahmu merupakan wajah yang datang dengan kebaikan”. “Aku adalah amal salihmu. Demi Allah aku tidak mengetahui dirimu melainkan seorang yang bersegera mentaati Allah dan lambat dalam bermaksiat kepada Allah, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan” jawab yang ditanya. Kemudian dibukakan untuknya pintu dari surga dan neraka. Lalu dikatakan: “ini adalah tempatmu seandainya engkau dulunya bermaksiat kepada Allah, lalu Allah mengganti bagimu dengan surga ini”. Maka bila ruh mukmin ini melihat apa yang ada di dalam surga, iapun berdoa: “Wahai Rabb-ku segerakanlah datangnya hari kiamat agar aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku.” Dikatakan kepadanya “Tinggallah engkau”.

Kemudian Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam melanjutkan penuturan beliau tentang perjalanan ruh. Beliau Shalallahu `Alaihi Wasallam bersabda: ”sesungguhnya seorang hamba yang kafir (di dalam riwayat yang lain hamba yang fajir) apabila akan berangkat meningggalkan dunia dan menuju alam akhirat, turun kepadanya dari langit para malaikat yang keras, kaku dan berwajah hitam. Mereka membawa kain yang kasar dari neraka. Mereka duduk di dekat si kafir itu sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di sisi kepala si kafir seraya berkata “wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah”.

Ruh yang buruk itu pun terpisah-pisah berserakan dalam jasadnya, lalu ditarik oleh malaikat maut sebagaimana dicabutnya besi yang banyak cabangnya dari kain yang basah, hingga tercabik-cabik urat dan sarafnya. Seluruh malaikat di antara langit dan bumi dan seluruh malaikat yang ada dilangit melaknatnya. Pintu-pintu langit ditutup. Tidak ada satu malaikat penjaga pintu pun kecuali berdoa kepada Allah Ta`ala agar ruh si kafir itu jangan diangkat melewati mereka. Kemudia malaikat maut mengambil ruh yang telah berpisah dengan jasad tersebut, namun tidak dibiarkan sekejap matapun berada di tangan malaikat maut, melainkan ruh tersebut segera diambil oleh para malaikat yang berwajah hitam lalu dibungkus dalam kain yang kasar. Dan keluarlah dari ruh tersebut bau bangkai yang paling busuk yang pernah terdapat di muka bumi. Kemudian para malaikat tersebut membawa ruh tersebut naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mesti ditanya “siapakah ruh yang buruk ini?” para malaikat yang membawanya menjawab ‘fulan bin fulan”, disebut namanya yang paling buruk yang dulu ketika di dunia ia dinamakan dengannya. Demikian hingga rombongan ini tiba dilangit dunia (langit yang paling rendah), merekapun meminta dibukakan pintu langit untuk membawa ruh tersebut namun tidak dibukakan. Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam kemudian membacakan: “Tidak dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk ke dalam surga sampai unta boleh masuk ke lubang jarum”. (Al A`raf:40)”.

Allah Ta`ala berfirman: “tulislah catatan amalnya di sijjiin di bumi yang paling bawah”. Lalu ruhnya dilemparkan begitu saja”. Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wasallam kemudian membacakan ayat: “Dan siapa yang menyekutukan Allah maka seakan-akan ia jatuh tersungkur dari langit lalu ia disambar oleh burung atau dihempaskan oleh angin ke tempat yang jauh lagi membinasakan”.

Si ruhpun dikembalikan ke dalam jasadnya yang dikubur di dalam tanah. Lalu ia didatangi oleh dua malaikat yang kemudian mendudukannya dan menanyakan kepadanya: “siapa rabbmu?” ia menjawab “hah…hah… aku tidak tahu”. Ditanya lagi: “Apa agamamu?” ia menjawab: “hah…hah… aku tidak tahu”. Ditanya lagi: “siapakah lelaki yang diutus ditengah kalian ?” ia menjawab: “hah…hah… aku tidak tahu”. Terdengarlah suara penyeru dari langit yang menyerukan: “telah dusta orang itu. maka bentangkanlah untuknya hamparan dari neraka dan bukakanlah untuknya sebuah pintu dari neraka!”. Lalu datanglah kepadanya hawa panasnya neraka dan disempitkan kuburnya hingga bertumpuk-tumpuk (tumpang-tindih) tulang rusuknya (karena sesaknya kuburnya). kemudian seorang yang buruk rupa, berpakaian buruk dan berbau busuk mendatanginya seraya berkata: “Bergembiralah dengan apa yang menjelekkanmu. Inilah hari yang pernah dijanjikan kepadamu”.

Si kafir bertanya dengan hairan: “Siapakah engkau? wajahmu merupakan wajah yang datang dengan keburukan”. Dijawab: “Aku adalah amalanmu yang buruk. Engkau adalah orang yang lambat untuk mentaati Allah Ta`ala, namun sangat bersegera dalam bermaksiat kepada Allah Ta`ala. Semoga Allah ta`ala membalasmu dengan keburukan”.

Kemudian didatangkan kepadanya seorang yang buta, bisu dan tuli. Ditangannya ada sebuah tongkat dari besi yang bila dipukulkan ke sebuah gunung nescaya gunung tersebut akan hancur menjadi debu. lalu orang yang buta, bisu dan tuli itu memukul si kafir dengan satu pukulan hingga ia menjadi debu. Kemudian Allah mengembalikan jasadnya sebagaimana semula, lalu ia dipukul lagi dengan pukulan berikutnya. iapun menjerit dengan jeritan yang dapat didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia. Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu neraka dan dibentangkan hamparan neraka maka iapun berdoa: “wahai rabbku, janganlah engkau datangkan hari kiamat”. (H.R Ahmad dalam Musnadnya , Al Haakim dalam Mustadrak `ala shahihnya).

Demikianlah berita dari Allah yang disampaikan RasulNya Muhammad Shalallahu `Alaihi Wasallam tentang perjalanan ruh setelah berpisah dari jasadnya. Dari berita tersebut kita dapati bahwa para ruh itu ketika telah berpisah dari jasadnya, maka ia akan segera sibuk dengan urusannya masing-masing. Bila ia ketika didunia adalah orang yang baik maka ia akan segera sibuk dengan segala kenikmatan yang Allah Ta`ala sediakan didalam kuburnya. Dan bila ia orang yang kafir dan durhaka ketika di dunia maka iapun akan segera sibuk dengan dahsyatnya azab Allah di kuburnya.

Demikianlah para ruh itu setelah berpisah dari jasadnya, masing-masing dari mereka akan sibuk dengan urusan di kuburnya masing-masing, sehingga tentu saja mereka tidak akan sempat lagi memikirkan nasib orang-orang yang ditinggalkannya di dunia apalagi mendatanginya atau merayau di dunia seperti yang disangkakan sebahagian orang, di mana sebahagian orang menyangka bahwa mayat itu boleh menyampaikan (menjadi perantara) doa antara dia dengan Allah, dan anggapan sebahagian orang juga yang menyangka bahwa adanya ruh yang merayau-rayau.

Setelah mengetahui perkhabaran diatas, masihkah kita berani bermaksiat kepada Allah dan enggan untuk taat kepadaNya ? Manakah yang menjadi pilihan kita saat menghadapi kenyataan ketika maut menjemput: ruh diangkat ke langit dengan penuh kemuliaan kemudian dihantarkan kembali untuk memperoleh kenikmatan yang kekal, atau pilihan kedua iaitu ruh dihempaskan dengan hina dari langit dunia untuk menjemput azab Allah yang amat pedih? Semoga Allah Ta`ala menganugerahkan kepada kita akhir hidup yang husnul khotimah, melindungi kita dari azab kubur dan memasukkan kita ke surgaNya dengan rahmatNya. Amin ya mujiibus saa`iliin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar