Rabu, 04 Januari 2012

GEJOLAK CINTA IKHWAN & AKHWAT


Gejolak Cinta Dikalangan Ikhwan dan Akhwat

Kalau ikwan jatuh cinta, begitu kata mereka, sebabnya mungkin lebih ‘berkelas’. Bukan lagi hawa nafsu yang menjurus seks atau romantisan-romantisan semata-meski kadang itu juga muncul-. Tetapi ianya seringkali berhulukan simpati atas keshalihan, kemulian akhlaq dan kesamaan visi dalam da’wah.
Dilemanya kemudian, bahwa ia sudah mengerti batasan-batasan yang diberikan Allah dan RaasulNya. Tetapi tetap saja ketertarikan itumenggantungkan keinginan untuk memberikan perhatian, sekedar memahami, atau bahkan berusaha memberi protect agar si dia tetap dalam keshalihan. Ada juga yang sampai titip pada saudara-saudaranya di jalan Allah agar si dia dijaga, diperhatikan dan dinasehati agar tetap istiqamah dalam dakwah.
Apa yang terjadi di sepanjang perjalanan hari?
Kalau tidak bertemu, rasanya ada sesuatu yang hilang dan harus segera dicari. Ada kekhawatiran berlebihan, ada keinginan kuat untuk bersua jumpa atau sekedar  tahu kondisi. Tapi setelah bertemu, berpandang, berbincang atau sekedar ber-SMS akan muncul rasa bersalah, gelisah, takut membuat Allah murka, dan menyesal….(Aneh ya?)
Kok tidak mencoba menutup semua pintu yang memberi banyak ruang bertemu?
Tidak seperti para ‘cowok’ yang tak perlu pikir panjang secara dewasa untuk sambung dan putus. Para ikhwan itu harus banyak mempertimbangkan untuk sekedar membatasi interaksi. Misalnya jangan sampai terputus silahturahim, putus ukhuwah atau setidaknya muncul kesan semacam itu. Padahal kalau interaksinya seperti biasa, sulit sekali untuk menjadi ‘tetap seperti biasa’.
Ada juga yang justru salah tingkah kalau bertemu, gemetaran, keluar keringat dingin dan tidak bisa berbicara dengan mencukupi. Tipe ini juga dilematis, lebih bayak menghindar namun justru mengundang banyak tanya. Yang terjadi kadang, komunikasi yang tidak sehat, banyak kesalahpahaman dan bisa mengganggu kinerja da’wah jika melibatkan sebuah tim kerja atau organisasi.
Sesungguhnya para ikhwan tetap saja mudah tergoda oleh tampilan fisik. Tentu tampilan fisik yang menunjukkan keshalihan. Hebatnya, mereka kadang berpikir jauh kedepan soal visi pernikahan membangun peradaban. Mereka merasa harus menyiapkan segalanya : ilmu, jiwa, jasad dan finansial. Tentu bagus. Tapi kalau semua persiapan sampai belajar pun dikaitkan dengan sebuah nama? Bisa jadi ada yang salah penempatan.
Kalau akhwat? Bicara soal GeeR-GeeRan  agaknya mereka sering mengalami. Naluri mendapat perhatian kadang menarik perasaan untuk mencoba sejauh apa pandangan seorang ikhwan terhadap masalahnya. Tanpa sadar, kadang ada penilaian, pembandingan, lalu kecendrungan. Hebatnya, akwat lebih easy going soal visi pernikahan. Ya, mereka memang tak perlu jauh berpikir tentang dimana tinggal atau bagaimana soal nafkah.
Kita mencatatat rentannya ketertarikan terhadap keshalihan dalam diri ikhwan dan akhwat ini. Wajar saja. Tetapi kalau sudah sampai tingkat merusak niat, konsentrasi ibadah, atau sampai tak ada bedanya dengan pacarannya cowok-cewek, artinya ada yang harus diluruskan.
Apabila kamu merasa kagum dengan seorang wanita, ingatlah kejelekan-kejelekannya! (Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’Anhu)
Ucapan mulia ini tak layak dinodai suuzhzhan kita. Bukan tajassus (mencari-cari aib). Tetapi lebih kepada pengembalian objektivitas yang manusiawi. Juga untuk memutus salah satu rantai tazyin (menghias-hias) yang dilakukan syaithan : yang buruk tampak baik, yang busuk tercium wangi, yang nista terdengar mulia.
Apabila kamu merasa kagum dengan seorang wanita, ingatlah kejelekan-kejelekannya!
Bukan orangnya yang harus kita sikapi sebagai ‘orang yang banyak kekurangan’. Tetapi lebih agar interaksi yang kita lakukan benar-benar proporsional. Bukan interaksi yang rasanya bagus, saling memberi nasehat dan taushiyah satu sama lain, saling memberi hadiah buku penyucian hati, kaset nasyid dan murattal; tapi ternyata justru merusak hati. Bukan, bukan itu yang kita inginkan.
Kita sering berkata, cinta kita karena Allah semata. Buktinya, yang kita lakukan  adalah saling menasehati dalam keshalihan. Tetapi tanpa ikatan apapun, kita memberikan perhatian khusus pada sebuah nama. Tidaklah berpikir bahwa yang harus dicintai karena Allah banyak jumlahnya? Tak hanya dia, tetapi keadilan yang melekati cinta menuntut perhatian besar kita pada masalah-masalah besar ummat ini. Juga perhatian dan perlakuan yang sama terhadap semua akhwat misalnya. Pengkhususan adalah pemfokusan jaring pesona yang berbahaya!
Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang  tentram jiwa padanya dan tentram pada dalam hati, meski orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” (HR Muslim)
Mudah sekali melafalkan kata cinta. Tanpa berpikir panjang, sebuah ketertarikan dan rasa suka segera menggerakkan lisan melafal kalimat Aku Cinta Padamu. Tak banyak yang tahu apa itu cinta, lebih sedikit lagi yang mencari tahu tentang hakikatnya. Banyak orang memberi definisi, tapi kalimatnya susah kita pahami. Beruntunglah ada Ibnul Qayyim Al Jausiyah, penulis buku Raudhatul Muhibbin Wa Nuzhatul Mustaqin (Taman Orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu). Ia, yang sangat kita percaya jika sudah berbicara tentang cinta, memberikan sebuah kaidah sederhana yang tampaknya sulit dibantah:
Cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab…..
(Ibnul Qayyim Al Jausiyah dalam buku Raudhatul Muhibbin Wa Nuzhatul Mustaqin)
Kaidah cinta Ibnul Qayyim ini mengajarkan pada kita bahwa sebab adalah nyawa bagi cinta. Sebab sembarangan akan menimbulkan sebab sembarangan. Cinta yang abadi memerlukan sebab abadi, begitulah kesimpulannya. Adalah dusta jika kau berkata cintamu abadi, padahal sebab cintamu adalah kecantikan fana, kekayaan sementara, atau perangai sandiwara.
Seolah Aku Bukan Diriku
Keinginan yang kuat untuk berpacaran dalam diri kita,-kalu ada- adalah manifestasi kepengecutan yang bertahta dalam sanubari. Kita pengecut, masih takut-takut untuk menanggung beban dalam hidup berumahtangga. Dan dibaliknya, kita begitu licik untuk bersegera menikmati sisi-sisi indah dalam hubungan dua insan. Benar-benar pengecut.
Tetapi mari kita sejenak mengembara, menelusu jejak, menelaah dengan penuh rasionalitas apa jadinya kalau kita menyicipi manisnya tebu cinta yang ‘belum sah untuk dipanen’ dan tak bisa menanamnya kembali untuk sebuah masa depan yang terbentang di depan kita. Tahu maksudnya?
Yang pertama, betapa berbahayanya ia bagi kepribadian.
“Selama pacaran…”,kata Ustdz Anis Matta dalam himpunan ceramah pernikahannya, “Mereka berpikir sedang berusaha saling memahami…”
“Tapi bukan itu yang terjadi!”, tegasnya. “Kenyataannya ialah mereka berusaha untuk tampil lebih baik dari yang sebenarnya. Sehingga setiap kali berbicara, sebenarnya mereka sedang menyembunyikan diri masing-masing. Mereka sedang membuat iklan untuk menggoda pembeli. Karena takut kalau pelanggan tidak puas, akhirnya ia akan ditinggalkan.”
Celakanya, seorang remaja seperti kita bisa mudah terseret kedalam gaya pribadi yang hipokrit. Kita ingin tampil super dihadapan si doi. Kita ingin menjadi seorang yang perfect. Sayang, yang dibangun bukan perbaikan diri, tapi ‘proses penopengan diri’.
Ayat-ayat Alquran berbicara kepada kita tentang kemunafikan. Perusak iman yang  ternyata akan sering kita dapati bersesuaian dengan pola kita untuk mendapatkan perhatian si dia. Berkait dengan penampilan, misalnya. Kita ingin selalu tampil mengagumkan, lincah, inerjik, dan tentunya pandai bersilat kata.
“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka itu seakan-akan kayu yang tersandar…”
(Al Munaafiqun 4)

Bahkan kadang disertai sumpah dusta yang muluk dan gombal.
“Dan diantara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya padahal ia adalah penentang yang paling keras”
(Al Baqarah 204)
Tentu saja yang paling parah adalah ketika terjadi pergeseran orientasi dalam semua aktivitas dan amalan. Ketika shalat kita karena dia bukan Dia,  ketika kita tahajjud karena takut besok pagi bakalan ditanyain sama dia. Ternyata puasa sunnah kita karena dia juga. Kita jadi pemberani dan jagoan karena didekat kita ada dia. Kita jadi rajin belajar karena dia. Astaghfirullah, kalau semua karena dia dan untuk si dia, yang kita simpan untuk bekal di akhirat apa coba?
(Mudah-mudahan kita masih hafal aatau ingat hadits tentang kedudukan niat dalam Islam. Saya ngeri kalau nanti Allah menghardik, “Mintalah balasan amalmu padanya, karena semua amal-amalnu karenanya!” Apa si dia punya balasan di akhirat? Padahal hitungan dosa kita kepada Allah buanyak banget, na’udzu billhi min dzalik)
Lihat betapa zhalimnya kita. Takdir Allah Yang Maha Kuasa kita adukan pada makhluknya yang lemah. Makhluk yang tak dapat sedikitpun mengubah ketetapanNya walau habis-habisan kita mengadu. Kenapa sih, nggak langsung mengadu pada Allah, Pemilik segala keputusan, ketetapan, Pembolak-balik hati, Penguasa semesta raya ini?
Betapa ingin saya mengajak Anda mencukupkan sepertiga terakhir malam untuk mengadu kepada Allah. Mengadulah sepuas-puasnya hingga tak tersisa lagi gurat duka di pagi yang indah, hingga kita temui semua makhlukNya dengan senyum cerah!
Ada baiknya kita dengar juga nasehat ustadz Didik Purwodarsono yang pernah dikutip Ustadz Fauzil ‘Adhim dalam buku Saatnya Untuk Menikah. Dengan bahasa yang amat halus beliau mengatakan :  Cara belajar untuk menjadi istri terbaik hanyalah melalui suami. Cara belajar menjadi suami yang baik hanyalah melaui istri. TIDAK BISA MELALUI PACARAN. Pacaran hanyalah mengajarkan bagaimana menjadi pacar terbaik, bukan suami atau istri terbaik.
Ada sup kaldu yang bumbunya dimakan dulu. Kias ini dimaksudkan sebagai umpama atas ketergesahan menikmti sisi-sisi indah dalam hubungan dua insan sebelum ia dihalalkan. Tak hanya berakibat dosa yang menjanjikan siksa di akhirat. Tapi terkadang Allah menyegerakan rasa pedih dan perih dalam jiwa saat kita masih di dunia.
Ketika pacaran, mereka sudah merasai bumbu yang seharusnya digunakan untuk menyedapkan kehidupan rumahtangga. Saling mencurahkan perasaan, berbagi, meredakan gelisah, memberi perhatian…, semua sudah. Padahal kasih nan  sayu, sentuhan mesra, kerapatan fisik, sandaran, singgungan dan tekanan kulit yang ternikmati, semuanya sudah. Pergi berdua, bertualang bersama, bertamasya mesra, semuanya juga sudah.
Sungguh, jiwa begitu mudah bosan. Tak akan ada yang istimewa dan menjadi kenangan selama hidup di pernikahan malam pertama. Kalau semuanya sudah dilakukan, kini mau apa? Takkan ada lagi salah tingkah yang begitu mengasyikkan lagi mengundang kesyukuran.
Kalau Anda menikah dan pernah pacaran, Anda akan membandingkan pacaran dengan pernikahan. Dan pasti pacaran lebih indah, karena pacaran memang hanya mencari rasa yang indah. Lalu jadilah kenangan pacaran sebagai penyesalan dalam hidup rumah tangga. Atau kalau Anda membandingkan istri Anda dan pacar Anda, pasti pacar Anda dahulu lebih sempurna. Ya, karena selama pacaran hanya sifat baiknya saja yang ditunjukkan pada Anda.
Berbeda dengan kenangan masa pacaran, kenangan hari-hari pertama suami-isteri. Karena ia juga mengajarkan qana’ah, ridha, dan ikhtiyar untuk saling memberi yang terbaik tanpa membanding-bandingkan dengan hubungan apapun yang hina, rendah dan penuh buai nafsu. 
Allahu akbar!
Peringatan sudah disampaikan. Bisa jadi ada pintu-pintu kesenangan yang dibukankan dalam pacaran. Tetapi tunggulah saat dimana Anda terdiam berputus asa. Saat segala kecewa dituai karena pernikahan tak lagi berbumbukan kenikatan. Saat Anda kecewa bahwa isteri dan suami tak seindah harapan. Saat itulah Anda menyesal. Saat itulah Anda sadar, akan salah satu pelajaran dari ayat ini:
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membuka pintu-pintu kesenangan bagi mereka. Sehingga apabila mereka telah bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
(AlAn’am 44)

By*Resty Annnisa* (Mahasiswa ITS Surabaya)
( Dikutip dari buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan oleh Salim A.Fillah)

1 komentar: