(Suatu Pendekatan Hidup Berdasarkan Qur'an dan Hadis)
Rabu, 14 Maret 2012
Selasa, 13 Maret 2012
CINTA IKHWAN
Bismillahirrahmanirrahiim.Wahai ikhwan, jika kamu mencintainya maka cintai’lah ia dalam Diam’mu. Hingga tiba saatnya kamu merasa mampu tuk mengungkapkannya. Disaat kamu telah merasa mampu tuk menjadi pendampingnya dan disaat kamu telah mampu untuk menjadi imam buatnya.
Wahai ikhwan, tak perlu merasa risau dan terburu-buru mengatakan cinta padanya. Hingga akhirnya jalan pintaspun kau tempuh. Mengajaknya berpacaran dengan embel-embel pacaran Nur Cahaya Islami, maka perlakuanmu salah! Atau kau takut kehilangan dirinya dan akhirnya meminta padanya untuk menunggumu hingga kau sanggup. Sesungguhnya kau tak harus melakukan hal itu padanya, sebab dengan mengajaknya seperti itu kau telah mendekatkannya pada jurang dosa, kau membuatnya ikut risau dan seakan-akan kau menutup pintu jodoh untuk saudaramu yang lain, yang mungkin saja lebih baik darimu. Mengapa kau risau? Bukannkah telah jelas janji-Nya “Jika wanita yang baik hanya untuk pria yang baik begitupula sebaliknya”
Wahai ikhwan, bukankah kau menginginkan suatu hari nanti memiliki pendamping yang suci dan baik agamanya. Lantas, mengapa saat ini kau malah membiarkan dirimu dalam kesia-siaan bersama seorang akhwat yang belum tentu menjadi pendampingmu? Disaat kamu menginginkan hal tersebut, maka seseorang yang kelak akan mendampingi akhwat tersebut juga berharap jika akhwat pilihannya adalah wanita suci. Dirimu menginginkan hal yang baik sementara kamu telah merusak milik orang lain.
Wahai ikhwan, sadarkah dirimu dengan segala perhatian yang kau berikan padanya? Menurutmu hal itu biasa saja? Bagaimana jika ia berpikir lain darimu? Menganggap semua kebohonganmu adalah sebuah kebenaran. Perlu kau ketahui, jika tak semua akhwat menyukai hal itu. Sikap yang berlebihan dan perhatian yang lebih dari batasnya hanya akan membuatnya risih terhadapmu, jangan pernah bertanya padanya “mengapa dirimu berubah?” tapi tanyalah pada dirimu apa yang telah kau perbuat? Ya memang benar pula, jika kamu mengangap perhatian itu adalah hal yang biasa dan salah kami jika memasukkannya dalam hati. Namun, patutkah kami, kau salahkan sepenuhnya? Harusnya kau tak berperilaku seperti itu, yang dapat membuat angan-angan terlintas dibenak kami. Membuat kami tersipu malu dengan semua perhatian itu, padahal hal itu adalah hal biasa yang sering kau lakukan pada semua akhwat.
Wahai ikhwan, jika kamu mencintainya maka cintalah ia dalam diammu. Sungguh diam itu amatlah berharga. Dengan diam cintamu akan tetap terjaga kesuciannya, sebab kau inginkan cintamu menjadi cinta yang hakiki dan menjadi cinta yang abadi. Berharaplah kepada-Nya agar menjodohkanmu dengannya, ikut sertakan ia dalam setiap sujud dan doamu. Agar dirinya senantiasa istiqomah, selalu mengalami peningkatan, dan dijauhi dari hal-hal yang dapat menjerumuskannya dalam lembah dosa.
Wahai ikhwan, dalam diam ada kekuatan yang besar...ada pengharapan yang begitu kuat yang tentunya berharap kepada-Nya Sang Maha Cinta. Bahagia’kah dirimu jika seandainya seseorang yang selama ini kamu kagumi akhirnya dijodohkan denganmu? Dan ternyata ia juga sepertimu, mencintaimu dalam diamnya. Sungguh bahagia yang tak terkira pastinya....
Wahai ikhwan, jika kamu mencintai maka belajarlah untuk mencintai seseorang yang nanti akan kau nikahi, jika kamu mengangumi maka belajarlah untuk mengagumi seseorang yang nanti akan kau nikahi, jika kamu menginginkan ia sepertimu Mencintai’mu dalam Diam’nya maka berharaplah kepada-Nya agar penantian panjangmu dan cintamu yang terdiam dapat berbicara penuh cinta dalam indahnya Akad pernikahan..
Wahai ikhwan, ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan ALi ? yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan...tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah. Apakah dirimu tidak menginginkah hal tersebut?
Wahai ikhwan, jika saat ini kamu merasa belum mampu untuk mengajaknya mengarungi bahtera rumah tangga, maka tetaplah cintai ia dalam diammu. jangan khawatir kehilangannya. Berbenahlah pada dirimu, maka ia pun akan berbenah diri terhadap segala kekurangannya. Bukankah rezeki yang Allah berikan tak pernah tertukar?
Wahai ikhwan, janganlah bersedih jika seandainya seseorang yang kamu kagumi pada akhirnya tidak berjodoh denganmu, mungkin saja ia bukan orang yang tepat buatmu. Bukan’kah lebih baik dirinya menikah dengan pria yang baik dan dalam keadaan yang baik pula. Daripada harus menunggu sesuatu yang belum pasti darimu. Bagaimana bukan’kah itu lebih baik?
Wahai ikhwan, aku katakan hal ini kepadamu sebab aku ingin kalian tetap terjaga, tidak menghabiskan waktu kalian bersama seseorang yang belum pasti dengan kalian ataupun membuat akhwat-akhwat merasa risau karena perlakuan kalian. Wahai ikhwan, aku tak bermaksud apapun kecuali hanya untuk kebaikan. Semoga kalian bisa mengerti setiap kata yang aku tuliskan ini. Semoga Allah menjodohkanmu dengan seseorang yang selama ini kamu kagumi... dan berharaplah ia pun sepertimu...
“Mana mungkin aku menolak kehadiranmu, sementara namamu telah hadir sebelum aku menarik nafas pertamaku”#
Semoga Alah memaafkan aku ketika aku bersalah
Allahuma Amiin
NB: Pesan ini tidak diperuntukkan khusus bagi seseorang melainkan sebagai renungan.
--end---
Untuk sahabatku ukhty
Senin, 12 Maret 2012
TAFSIR AR-RAHMAN
Bismillahirrahmanirrahim…
Surah Ar-Rahman adalah surah ke-55 dalam al-Qur'an. Surah ini tergolong surat makkiyah, terdiri atas 78 ayat. Dinamakan Ar-Rahmaan yang berarti Yang Maha Pemurah berasal dari kata Ar-Rahman yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Ar-Rahman adalah salah satu dari nama-nama Allah. Sebagian besar dari surah ini menerangkan kepemurahan Allah. kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Surat Ar Rahman adalah salah satu surat dari 114 surat dalam Al Qur'an. Entah mengapa, tanpa mengesampingkan surat lain dalam Al Qur'an, surat ini menyita perhatian saya. Surat ini memiliki kata yang begitu indah dan mengalir berirama. Dan tanpa terasa air mata menetes, satu ,demi satu
Ciri khas surah ini adalah kalimat berulang 31 kali Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) yang terletak di akhir setiap ayat yang menjelaskan nikmat Allah yang diberikan kepada manusia.
FABIAYYI ALAA 'IRAABIKUMAA TUKADZDZIBAANN (maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan). Tiga puluh ayat dalam surat Ar Rahman memiliki kalimat ini; maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Berulang, Allah memberi peringatan kepada kita; maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Melalui surat ini Allah seolah memberi sinyal kepada kita akan sifat kita yang pelupa, kufur nikmat, dan tidak mau berfikir. Ya, tiga hal itu yang ada dibenak saya (semoga Allah mengampuni kesalahanku) ketika ayat demi ayat dibaca.
PELUPA; manusia adalah mahluk yang pelupa
Manusia dalam Al Qur'an di tulis dalam beberapa istilah, yakni al-insaan, an-naas, al-basyar, dan banii Aadam. Manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Sedangkan kata an-naas digunakan untuk menunjukan sekelompok manusia baik dalam arti jenis atau sekelompok tertentu. Al-basyar, karena manusia cenderung perasa dan emosional, dan banii Aadam karena dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam.
setidaknya ada dua hal yang seringkali dengan mudah dilupakan manusia, dan barulah dia teringat dan menyadari apa yang telah dilupakan itu, ketika berada dalam kondisi sulit, susah dan membahayakan.
Pertama, manusia dengan mudah dan gampang melupakan Allah swt. dan baru ingat kembali kepada-Nya, ketika manusia menghadapi kondisi sulit, susah dan membahayakan. Begitulah yang disebutkan Allah dalam surat Yunus [10]: 12
Artinya: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.”
Begitu juga dalam surat Fushshilat [41]: 50
Artinya: “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: "Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang…”
Kita adalah mahluk pelupa, dan Allah mengingatkan kita berulang-ulang ... maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
KUFUR NIKMAT
Disetiap tarikan nafas yang kita hirup, disetiap bergantinya siang malam, di setiap detak jantung, ada nikmat Allah yang kita sering lupakan. Ya, nikmat Allah yang sering lupa untuk kita syukuri. Dan ketika musibah (baca:ujian) diberikan pada kita, kita juga lupa bahwa itu sebagian nikmat yang Allah beri. Lalu kitapun hanya bisa mencaci maki, mengupat, bahkan merasa Allah tidak adil. Masya Allah...
Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.
QS. ar-Rahman (55) : 11
Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
QS. ar-Rahman (55) : 12
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
QS. ar-Rahman (55) : 13
Bentuk rasa syukur seharusnya menambah keimanan kita; mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Beribadah kepada Allah, dan menjauhkan diri dari maksiat. Celakalah orang yang kufur nikmat, dan berbahagialah orang yang bisa mensyukuri nikmat. Karena ketika ia bersyukur, Allah menambahkan nikmat-Nya.
"la in syakartum laa adziidanakum wa la'in kafartum inna azabi lasyadid"
artinya "sesungguhnya jika (kamu) bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU) maka sesungguhnya azab-KU akan sangat pedih". (QS. Ibrahim ayat 7)
maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
BERFIKIR
Melalui surat ini Allah hendak memancing manusia agar berpikir tentang segala nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia.
Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,
QS. ar-Rahman (55) : 19
antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
QS. ar-Rahman (55) : 20
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
QS. ar-Rahman (55) : 21
Pernahkan kita berfikir? Mungkin, kebanyakan kita hanya mengikuti apa yang sudah diwariskan oleh orang-orang tua kita. Dan agama yang Islam yang kita pegang pun hanyalah "warisan" yang kita teruskan. Tanpa kita mau berfikir, untuk merenung lebih dalam dan menambah keimanan kita.
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran" (QS. Shaad, 38: 29).
Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa takut kepada Allah.
maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Keutamaan Surat Ar Rahman
1. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman, Allah akan menyayangi kelemahannya dan meridhai nikmat yang dikaruniakan padanya.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/187).
2. Imam Ja’far Ash-shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman, dan ketika membaca kalimat ‘Fabiayyi âlâi Rabbikumâ tukadzdzibân’, ia mengucapkan: Lâ bisyay-in min âlâika Rabbî akdzibu (tidak ada satu pun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan), jika saat membacanya itu pada malam hari kemudian ia mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid; jika membacanya di siang hari kemudian mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).
3. Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Jangan tinggalkan membaca surat Ar-Rahman, bangunlah malam bersamanya, surat ini tidak menentramkan hati orang-orang munafik, kamu akan menjumpai Tuhannya bersamanya pada hari kiamat, wujudnya seperti wujud manusia yang paling indah, dan baunya paling harum. Pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang berdiri di hadapan Allah yang lebih dekat dengan-Nya daripadanya. Pada saat itu Allah berfirman padanya: Siapakah orang yang sering bangun malam bersamamu saat di dunia dan tekun membacamu. Ia menjawab: Ya Rabbi, fulan bin fulan, lalu wajah mereka menjadi putih, dan ia berkata kepada mereka: Berilah syafaat orang-orang yang mencintai kalian, kemudian mereka memberi syafaat sampai yang terakhir dan tidak ada seorang pun yang tertinggal dari orang-orang yang berhak menerima syafaat mereka. Lalu ia berkata kepada mereka: Masuklah kalian ke surga, dan tinggallah di dalamnya sebagaimana yang kalian inginkan.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).
maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Malam lepas Isya' ku buka Al Qur'an dan kubaca surat Ar Rahman. Tanpa terasa, air mataku menetes. Satu ,,, demi satu ,,,,
maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?..Sungguh betapa sayang Allah pada kita yang terus mengimbgatkan kita sebagai hambanya...
wallahu'alam
Surah Ar-Rahman adalah surah ke-55 dalam al-Qur'an. Surah ini tergolong surat makkiyah, terdiri atas 78 ayat. Dinamakan Ar-Rahmaan yang berarti Yang Maha Pemurah berasal dari kata Ar-Rahman yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Ar-Rahman adalah salah satu dari nama-nama Allah. Sebagian besar dari surah ini menerangkan kepemurahan Allah. kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Surat Ar Rahman adalah salah satu surat dari 114 surat dalam Al Qur'an. Entah mengapa, tanpa mengesampingkan surat lain dalam Al Qur'an, surat ini menyita perhatian saya. Surat ini memiliki kata yang begitu indah dan mengalir berirama. Dan tanpa terasa air mata menetes, satu ,demi satu
Ciri khas surah ini adalah kalimat berulang 31 kali Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) yang terletak di akhir setiap ayat yang menjelaskan nikmat Allah yang diberikan kepada manusia.
FABIAYYI ALAA 'IRAABIKUMAA TUKADZDZIBAANN (maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan). Tiga puluh ayat dalam surat Ar Rahman memiliki kalimat ini; maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Berulang, Allah memberi peringatan kepada kita; maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Melalui surat ini Allah seolah memberi sinyal kepada kita akan sifat kita yang pelupa, kufur nikmat, dan tidak mau berfikir. Ya, tiga hal itu yang ada dibenak saya (semoga Allah mengampuni kesalahanku) ketika ayat demi ayat dibaca.
PELUPA; manusia adalah mahluk yang pelupa
Manusia dalam Al Qur'an di tulis dalam beberapa istilah, yakni al-insaan, an-naas, al-basyar, dan banii Aadam. Manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Sedangkan kata an-naas digunakan untuk menunjukan sekelompok manusia baik dalam arti jenis atau sekelompok tertentu. Al-basyar, karena manusia cenderung perasa dan emosional, dan banii Aadam karena dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam.
setidaknya ada dua hal yang seringkali dengan mudah dilupakan manusia, dan barulah dia teringat dan menyadari apa yang telah dilupakan itu, ketika berada dalam kondisi sulit, susah dan membahayakan.
Pertama, manusia dengan mudah dan gampang melupakan Allah swt. dan baru ingat kembali kepada-Nya, ketika manusia menghadapi kondisi sulit, susah dan membahayakan. Begitulah yang disebutkan Allah dalam surat Yunus [10]: 12
Artinya: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.”
Begitu juga dalam surat Fushshilat [41]: 50
Artinya: “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: "Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang…”
Kita adalah mahluk pelupa, dan Allah mengingatkan kita berulang-ulang ... maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
KUFUR NIKMAT
Disetiap tarikan nafas yang kita hirup, disetiap bergantinya siang malam, di setiap detak jantung, ada nikmat Allah yang kita sering lupakan. Ya, nikmat Allah yang sering lupa untuk kita syukuri. Dan ketika musibah (baca:ujian) diberikan pada kita, kita juga lupa bahwa itu sebagian nikmat yang Allah beri. Lalu kitapun hanya bisa mencaci maki, mengupat, bahkan merasa Allah tidak adil. Masya Allah...
Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.
QS. ar-Rahman (55) : 11
Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
QS. ar-Rahman (55) : 12
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
QS. ar-Rahman (55) : 13
Bentuk rasa syukur seharusnya menambah keimanan kita; mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Beribadah kepada Allah, dan menjauhkan diri dari maksiat. Celakalah orang yang kufur nikmat, dan berbahagialah orang yang bisa mensyukuri nikmat. Karena ketika ia bersyukur, Allah menambahkan nikmat-Nya.
"la in syakartum laa adziidanakum wa la'in kafartum inna azabi lasyadid"
artinya "sesungguhnya jika (kamu) bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU) maka sesungguhnya azab-KU akan sangat pedih". (QS. Ibrahim ayat 7)
maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
BERFIKIR
Melalui surat ini Allah hendak memancing manusia agar berpikir tentang segala nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia.
Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,
QS. ar-Rahman (55) : 19
antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.
QS. ar-Rahman (55) : 20
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
QS. ar-Rahman (55) : 21
Pernahkan kita berfikir? Mungkin, kebanyakan kita hanya mengikuti apa yang sudah diwariskan oleh orang-orang tua kita. Dan agama yang Islam yang kita pegang pun hanyalah "warisan" yang kita teruskan. Tanpa kita mau berfikir, untuk merenung lebih dalam dan menambah keimanan kita.
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran" (QS. Shaad, 38: 29).
Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenung dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa takut kepada Allah.
maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Keutamaan Surat Ar Rahman
1. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman, Allah akan menyayangi kelemahannya dan meridhai nikmat yang dikaruniakan padanya.” (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/187).
2. Imam Ja’far Ash-shadiq (sa) berkata: “Barangsiapa yang membaca surat Ar-Rahman, dan ketika membaca kalimat ‘Fabiayyi âlâi Rabbikumâ tukadzdzibân’, ia mengucapkan: Lâ bisyay-in min âlâika Rabbî akdzibu (tidak ada satu pun nikmat-Mu, duhai Tuhanku, yang aku dustakan), jika saat membacanya itu pada malam hari kemudian ia mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid; jika membacanya di siang hari kemudian mati, maka matinya seperti matinya orang yang syahid.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).
3. Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Jangan tinggalkan membaca surat Ar-Rahman, bangunlah malam bersamanya, surat ini tidak menentramkan hati orang-orang munafik, kamu akan menjumpai Tuhannya bersamanya pada hari kiamat, wujudnya seperti wujud manusia yang paling indah, dan baunya paling harum. Pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang berdiri di hadapan Allah yang lebih dekat dengan-Nya daripadanya. Pada saat itu Allah berfirman padanya: Siapakah orang yang sering bangun malam bersamamu saat di dunia dan tekun membacamu. Ia menjawab: Ya Rabbi, fulan bin fulan, lalu wajah mereka menjadi putih, dan ia berkata kepada mereka: Berilah syafaat orang-orang yang mencintai kalian, kemudian mereka memberi syafaat sampai yang terakhir dan tidak ada seorang pun yang tertinggal dari orang-orang yang berhak menerima syafaat mereka. Lalu ia berkata kepada mereka: Masuklah kalian ke surga, dan tinggallah di dalamnya sebagaimana yang kalian inginkan.” (Tsawabul A’mal, hlm 117).
maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Malam lepas Isya' ku buka Al Qur'an dan kubaca surat Ar Rahman. Tanpa terasa, air mataku menetes. Satu ,,, demi satu ,,,,
maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?..Sungguh betapa sayang Allah pada kita yang terus mengimbgatkan kita sebagai hambanya...
wallahu'alam
Jumat, 09 Maret 2012
DOA BUAT KEKASIHKU
Inilah sebagai rintihan hati seorang pecinta kepada yang dicintai, dikala suatu masa lama tak bersua dan emimiliki suatu kegundahan yang mendalam akan keberadaaan cintanya untuk diletakkan bersama dalam mihrab cinta-Nya..
Ya Allah ampuni hambamu ini... Yang hina, penuh dengan nafsu dan seperti binatang.., Aku yang begitu teguh dalam memegang prinsip tapi ternyata terkalahkan oleh cinta.., Aku tau cinta adalah anugrah dariMU tapi jujur sekarang kusadari bahwa yang kurasakan dulu adalah cinta syahwati, yang penuh dengan nafsu setan.., Parahnya lagi saat aku merasakan cinta itu, aku tetap mengingatMu tapi aku juga tak bisa mengalahkan nafsuku.., Dan yang membuatku tersadar dan membuatku menangis, ternyata Engkau masih menyayangiku. Engkau kandaskan cinta itu dan Engkau hempaskan begitu saja cinta itu dalam lautan api yang tak mungkin lagi bisa kuambil.., Aku menangis saat itu bahkan aku sempat berburuk sangka padaMu. .
Walaupun saat aku sedang merasakan cinta yang begitu dalam pada lelaki ciptaanMu, aku sering memohon padaMu, jika memang dia bukan untukku maka jauhkan aku darinya.., Dan saat itu terjadi, Aku menangis, duniaku seakan berakhir.,
Ya Allah jika saat ini, aku menginginkan seorang pendamping seperti Muhammad, mungkinkah Engkau mendengarku sedangkan pripadiku tak seperti Aisyah.., Aku pernah terjerumus ke dalam jebakan setan, walaupun dalam pemikiran manusia hal yang kulakukan bisa dibilang suatu kewajaran tapi aku tau bagiMu ini adalah suatu pengkhianatan.., Apakah Engkau akan mengabulkan permohonanku untuk mendapat pendamping yang benar-benar dekat denganMu, bisa menjadi imam yang baik bagiku... Apakah aku pantas untuk mendapatkan lelaki seperti itu???? Karena ada yang bilang bahwa orang yang pernah berpacaran akan mendapat pendamping yang pernah berpacaran juga.. Aku malu pada diriku sendiri Ya Allah. . . :(
Ya Allah, aku mohon ampuni dosaku yang lalu.., Aku mohon trima tobatku, jauhkan aku dari dosa yang hina itu dan jangan sampai dosa itu terulang lagi.., Diahkhir permohonanku, aku mohon berikanlah pendamping yang shaleh, yang mencintaiku karena Engkau, yang bisa membimbingku untuk lebih dekat denganMu.., Aku ingin menikah Ya Allah tapi sebelum menikah aku tak ingin menjadi budak nafsu lelaki....... Aku inging menikah karenaMu...... Kabulkan Ya Rabb.... AAMIIN.................
Buat kekasaihku,,Beibz
Rabu, 07 Maret 2012
PROSES NIKAH
Terkadang ketika seseorang sudah ingin menikah banyak hal yang tidak ia perhatikan sebelum memutuskan untuk maju dalam sebuah proses mengkhitbah atau melamar...,
Apalagi jika seseorang belum terlalu mengenal calon yang ada di hadapannya..., Yang saya maksud di sini adalah seorang harus benar-benar berusaha untuk mencari tahu informasi yang cukup tentang calonnya... Sehingga ketika ia memutuskan untuk maju atau mundur di atas kejelasan dari informasi yang benar...
Dalam perkara ini manusia terbagi tiga kelompok :
1.Kelompok yang berlebih-lebihan, sehingga menerjang yang haram dengan dalih ingin mengenal lebih jauh tentang calonnya. Sehingga terjatuhlah dia kepada perkara yang haram, seperti pacaran, jalan bareng, berduaan dan perkara yang haram lainnya. Yang itu semua bukanlah jalan menuju untuk seseorang mengenal calonnya.
2.Kelompok yang meremehkan, hal ini kebanyakan didasari karena ketidaktahuan dalam masalah ini sehingga banyak yang dikemudian hari yang menyesal. Baik karena masalah fisiknya atau agamanya.
3.Kelompok yang ketiga yang berada di tengah-tengah, yang mereka terbimbing dengan ilmu, tidak berlebihan dan juga tidak meremehkan. Mereka berusaha mencari tahu tentang agama, sifat, tabiat dan akhlaq calonnya dengan cara-cara yang dibolehkan secara syar’i. Dan tidak “melewatkan” untuk melihat (nadhor) calonnya sebelum melamar.
Di antaranya perkara-perkara yang perlu diperhatikan sebelum anda melangkah adalah seperti apa yang akan saya sebutkan di bawah ini..
Pertama : Pastikan anda benar-benar tahu tentang agama dan fisik akhwat yang ingin anda lamar supaya anda tidak menyesal di kemudian hari.,
Agama adalah perkara yang sangat penting ketika seseorang ingin memilih pasangan hidupnya.., Maka seseorang harus benar-benar mencari tahu tentang agamanya, apakah agamanya benar-benar baik, sejauh mana dia melaksanakan perkara-perkara yang Allah wajibkan seperti shalat lima waktu, puasa dan kewajiban yang lainnya...
Atau sejauh mana dia semangat dalam menutut ilmu, ke mana ia belajar menuntut ilmu, sudah berapa lama ia mengenal dakwah yang haq ini , dan seterusnya dari hal-hal yang dapat kita gunakan untuk menyimpulkan baik dan tidaknya agama dan manhaj seseorang.., Begitu juga tentang wajah atau fisiknya, sudahkah anda mengutus orang yang anda percaya untuk melihatnya atau sudahkah anda melihatnya (nadhor). Dan hal-hal yang lain yang anda harus perhatikan... Terutama kebenaran informasi yang anda dapatkan dan sumber informasi yang memberikan informasi kepada anda....
Tanyakan kepada sumber infomasi atau wasilah anda, maaf umm (sesama akhwat) atau maaf akh (sesama ikhwan) antm mengenalnya sudah berapa lama, kenalnya atau ketemunya hanya sebatas di tempat ta’lim atau lebih dari itu, tanyakan lagi apakah anda pernah tinggal satu pondok atau satu rumah atau kos-kosan dengannya dan pertanyaan – pertanyaan yang lainnya..,
Yang mana dari jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, anda akan mengetahui sejauh mana pemberi informasi atau comblang mengenalnya. Ketika si pemberi informasi mengatakan orangnya baik agamanya dan anda tahu dia mengenal calon anda hanya sebatas ketemu di tempat ta’lim dan moment-moment tertentu maka anda bisa menilai kualitas kebenaran penilainnya tentang calon anda, dan begitu seterusnya...
Tentu berbeda ketika ada dua sumber informasi misalnya, keduanya sama-sama baru dua tahun mengenalnya, akan tetapi yang satu hanya sebatas ketemu di tempat ta’lim dan moment-moment tertentu dan yang satunya lagi pernah hidup bersamanya di satu pondok yang dari bangun hingga mau tidur ia bertemu dengannya..., Tentu kualitas dan sejauh mana kebenaran penilaian keduanyanya berbeda, walaupun sama-sama mengatakan baik agamanya... Kalau ternyata sumber informasi yang pertama yang hanya sebatas ketemu di tempat ta’lim mengatakan baik agamanya akan tetapi sumber informasi yang satu yang pernah hidup sepondok dengannya mengatakan tidak baik akhlaqnya. Maka anda bisa membandingkan mana yang lebih mendekati kebenaran dari kedua sumber informasi tersebut...
Perhatikalah hal ini wahai saudaraku.., Termasuk juga tentang keilmuan dan pemahaman agama sumber informasi anda... Karena pemahaman agama seseorang mempengaruhi cara menilai seseorang.... Barakallahu fikum...
Ada sebuah kisah yang menarik yang terkait dengan apa yang saya utarakan, semoga menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita semua...
Ada seorang akhwat yang “menggugat” comblangnya yang bergelar LC dari Madinah (1) karena si akhwat merasa informasi yang didapatkan tentang baiknya agama suaminya ketika proses dulu tidak sesuai dengan kenyataan...
Wallahu ta’ala a’lam tentang apa sebenarnya permasalahannya, kemungkinan masalahnya adalah di antara apa yang telah saya utarakan di atas...
Inti yang ingin saya utarakan di sini adalah ketika seseorang ingin maju atau mundur dalam sebuah proses benar-benar di atas kejelasan informasi yang cukup tentang agama dan fisiknya...
Kedua : Teliti kembali kebenaran informasi yang anda dapatkan..,
Aku teringat seorang suami yang mengeluh kepada istrinya tentang banyak informasi yang tak sesuai ketika dalam proses mereka berdua..., Istrinya menjawab, dulu ketika wasilahnya ditanya, afwan umm ikhwannya tanya apa, wasilahnya menjawab (karena merasa sangat kenal dengannya), “Sudah gampang biar nanti saya yang ngasih tahu informasi tentang anti (kamu).” Kesalahan dari seorang wasilah (comblang) dengan tidak mengecek lagi kebenaran informasi yang ia sampaikan terkadang sangat fatal akibatnya..
Tergantung sebesar apa informasi yang ia sampaikan menjadi sebab maju atau mundurnya seseorang dalam sebuah proses.
Kalau seseorang tidak mengecek dan meneliti kembali informasi yang ia dapatkan, maka kesalahan wasilahnya akan berimbas buruk kepadanya...
Tapi harus diingat dengan cara yang baik atau dari jalan yang lain. Karena setiap wasilah (perantara/comblang) mempunyai aktivitas dan kesibukan yang berbeda-beda...
Mereka membantu seseorang sesuai dengan kemampuannya masing-masing..,
Dan jangan lupa di antara akhlak yang baik adalah kita mengetahui kebaikan dan membalas kebaikan orang yang berbuat baik kepada kita – ya Allah mudahkanlah kami untuk mebalas kebaikkan orang yang berbuat baik kepada kami – Amin...
Ketiga : Jangan lupa untuk meminta pertimbangan kepada orang yang berilmu (musyawarah) tentang hal ini, terkhusus ilmu yang berkaitan dengan apa yang kita bahas di dalam tema ini...
Mungkin anda melihat sesuatu tentang calon anda, baik itu yang sifatnya penilaian yang baik atau sebaliknya. Atau mungkin anda menilai sebaiknya tetap meneruskan proses yang sedang anda jalani atau malah sebaliknya. Atau anda merasa sampai di sini saja prosesnya karena mendapatkan ganjalan di tengah jalan dan dari perkara-perkara yang semisalnya...
Tetapi justru setelah anda meminta pertimbangan orang yang memiliki ilmu dalam masalah ini anda mendapatkan jawaban, saran atau solusi yang menyelisihi kesimpulan anda untuk maju atau mundur, meneruskan atau cukup sampai di sini saja. Perhatiakanlah hal ini wahai saudaraku...
Itulah keutamaan orang yang berilmu bisa melihat apa yang tidak kita lihat disebabkan ilmunya. Sehingga ia bisa memberikan pengarahan yang baik kepada anda. Ketimbang anda tidak meminta pertimbangan kepada orang yang berilmu.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.”
(Qs. Asy-Syura : 38)
Keempat : Berdoa kepada Allah...
Berdoa kepada Allah adalah sebuah ibadah yang sangat agung, sebab yang besar seseorang meraih apa yang ia inginkan...
Allah Ta’aala berfirman :
“ Dan apabila hamba – hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (Qs. al-Baqarah : 186)
“ Dan Rabbmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. al-Mukmin : 60)
Maka jangan lupakan berdoa, agar Allah memberi kemudahan kepada urusan kita...
Kelima : Jangan lupa shalat istikharah, kita serahkan urusannya sama Allah dengan disertai usaha yang maksimal..
Kebutuhan kita kepada Allah sangatlah besar di antaranya dengan melaksanakan shalat istikharah..., Ketika seorang hamba melakukannya menunjukkan kepercayaannya yang kuat kepada Allah, dan keterkaitan hatinya dengan apa yang ada di sisi-Nya serta ridha dengan segala keputusan-Nya...
Dari Jabir Radiyallahu ‘anhu menuturkan : “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami istikharah di dalam segala urusan kami, sebagaimana mengajari kami surat di dalam al-Qur’an, yaitu beliau bersabda :
‘Bila salah seorang di antara kalian mempunyai urusan maka shalatlah dua rakaat, lalu berdoalah : ‘Ya Allah, saya meminta dengan ilmu yang ada pada-Mu, pilihan yang terbaik bagiku, saya minta ditetapkannya urusanku ini, sesuai kehendak-Mu, saya memohon karunia-Mu yang Agung. Karena Engkaulah yang menetapkan sedang saya tidak bisa menetapkan. Engkau yang tahu sedang saya tidak tahu, Engkaulah yang Maha Tahu, tentang perkara-perkara ghaib.
Apalagi jika seseorang belum terlalu mengenal calon yang ada di hadapannya..., Yang saya maksud di sini adalah seorang harus benar-benar berusaha untuk mencari tahu informasi yang cukup tentang calonnya... Sehingga ketika ia memutuskan untuk maju atau mundur di atas kejelasan dari informasi yang benar...
Dalam perkara ini manusia terbagi tiga kelompok :
1.Kelompok yang berlebih-lebihan, sehingga menerjang yang haram dengan dalih ingin mengenal lebih jauh tentang calonnya. Sehingga terjatuhlah dia kepada perkara yang haram, seperti pacaran, jalan bareng, berduaan dan perkara yang haram lainnya. Yang itu semua bukanlah jalan menuju untuk seseorang mengenal calonnya.
2.Kelompok yang meremehkan, hal ini kebanyakan didasari karena ketidaktahuan dalam masalah ini sehingga banyak yang dikemudian hari yang menyesal. Baik karena masalah fisiknya atau agamanya.
3.Kelompok yang ketiga yang berada di tengah-tengah, yang mereka terbimbing dengan ilmu, tidak berlebihan dan juga tidak meremehkan. Mereka berusaha mencari tahu tentang agama, sifat, tabiat dan akhlaq calonnya dengan cara-cara yang dibolehkan secara syar’i. Dan tidak “melewatkan” untuk melihat (nadhor) calonnya sebelum melamar.
Di antaranya perkara-perkara yang perlu diperhatikan sebelum anda melangkah adalah seperti apa yang akan saya sebutkan di bawah ini..
Pertama : Pastikan anda benar-benar tahu tentang agama dan fisik akhwat yang ingin anda lamar supaya anda tidak menyesal di kemudian hari.,
Agama adalah perkara yang sangat penting ketika seseorang ingin memilih pasangan hidupnya.., Maka seseorang harus benar-benar mencari tahu tentang agamanya, apakah agamanya benar-benar baik, sejauh mana dia melaksanakan perkara-perkara yang Allah wajibkan seperti shalat lima waktu, puasa dan kewajiban yang lainnya...
Atau sejauh mana dia semangat dalam menutut ilmu, ke mana ia belajar menuntut ilmu, sudah berapa lama ia mengenal dakwah yang haq ini , dan seterusnya dari hal-hal yang dapat kita gunakan untuk menyimpulkan baik dan tidaknya agama dan manhaj seseorang.., Begitu juga tentang wajah atau fisiknya, sudahkah anda mengutus orang yang anda percaya untuk melihatnya atau sudahkah anda melihatnya (nadhor). Dan hal-hal yang lain yang anda harus perhatikan... Terutama kebenaran informasi yang anda dapatkan dan sumber informasi yang memberikan informasi kepada anda....
Tanyakan kepada sumber infomasi atau wasilah anda, maaf umm (sesama akhwat) atau maaf akh (sesama ikhwan) antm mengenalnya sudah berapa lama, kenalnya atau ketemunya hanya sebatas di tempat ta’lim atau lebih dari itu, tanyakan lagi apakah anda pernah tinggal satu pondok atau satu rumah atau kos-kosan dengannya dan pertanyaan – pertanyaan yang lainnya..,
Yang mana dari jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, anda akan mengetahui sejauh mana pemberi informasi atau comblang mengenalnya. Ketika si pemberi informasi mengatakan orangnya baik agamanya dan anda tahu dia mengenal calon anda hanya sebatas ketemu di tempat ta’lim dan moment-moment tertentu maka anda bisa menilai kualitas kebenaran penilainnya tentang calon anda, dan begitu seterusnya...
Tentu berbeda ketika ada dua sumber informasi misalnya, keduanya sama-sama baru dua tahun mengenalnya, akan tetapi yang satu hanya sebatas ketemu di tempat ta’lim dan moment-moment tertentu dan yang satunya lagi pernah hidup bersamanya di satu pondok yang dari bangun hingga mau tidur ia bertemu dengannya..., Tentu kualitas dan sejauh mana kebenaran penilaian keduanyanya berbeda, walaupun sama-sama mengatakan baik agamanya... Kalau ternyata sumber informasi yang pertama yang hanya sebatas ketemu di tempat ta’lim mengatakan baik agamanya akan tetapi sumber informasi yang satu yang pernah hidup sepondok dengannya mengatakan tidak baik akhlaqnya. Maka anda bisa membandingkan mana yang lebih mendekati kebenaran dari kedua sumber informasi tersebut...
Perhatikalah hal ini wahai saudaraku.., Termasuk juga tentang keilmuan dan pemahaman agama sumber informasi anda... Karena pemahaman agama seseorang mempengaruhi cara menilai seseorang.... Barakallahu fikum...
Ada sebuah kisah yang menarik yang terkait dengan apa yang saya utarakan, semoga menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita semua...
Ada seorang akhwat yang “menggugat” comblangnya yang bergelar LC dari Madinah (1) karena si akhwat merasa informasi yang didapatkan tentang baiknya agama suaminya ketika proses dulu tidak sesuai dengan kenyataan...
Wallahu ta’ala a’lam tentang apa sebenarnya permasalahannya, kemungkinan masalahnya adalah di antara apa yang telah saya utarakan di atas...
Inti yang ingin saya utarakan di sini adalah ketika seseorang ingin maju atau mundur dalam sebuah proses benar-benar di atas kejelasan informasi yang cukup tentang agama dan fisiknya...
Kedua : Teliti kembali kebenaran informasi yang anda dapatkan..,
Aku teringat seorang suami yang mengeluh kepada istrinya tentang banyak informasi yang tak sesuai ketika dalam proses mereka berdua..., Istrinya menjawab, dulu ketika wasilahnya ditanya, afwan umm ikhwannya tanya apa, wasilahnya menjawab (karena merasa sangat kenal dengannya), “Sudah gampang biar nanti saya yang ngasih tahu informasi tentang anti (kamu).” Kesalahan dari seorang wasilah (comblang) dengan tidak mengecek lagi kebenaran informasi yang ia sampaikan terkadang sangat fatal akibatnya..
Tergantung sebesar apa informasi yang ia sampaikan menjadi sebab maju atau mundurnya seseorang dalam sebuah proses.
Kalau seseorang tidak mengecek dan meneliti kembali informasi yang ia dapatkan, maka kesalahan wasilahnya akan berimbas buruk kepadanya...
Tapi harus diingat dengan cara yang baik atau dari jalan yang lain. Karena setiap wasilah (perantara/comblang) mempunyai aktivitas dan kesibukan yang berbeda-beda...
Mereka membantu seseorang sesuai dengan kemampuannya masing-masing..,
Dan jangan lupa di antara akhlak yang baik adalah kita mengetahui kebaikan dan membalas kebaikan orang yang berbuat baik kepada kita – ya Allah mudahkanlah kami untuk mebalas kebaikkan orang yang berbuat baik kepada kami – Amin...
Ketiga : Jangan lupa untuk meminta pertimbangan kepada orang yang berilmu (musyawarah) tentang hal ini, terkhusus ilmu yang berkaitan dengan apa yang kita bahas di dalam tema ini...
Mungkin anda melihat sesuatu tentang calon anda, baik itu yang sifatnya penilaian yang baik atau sebaliknya. Atau mungkin anda menilai sebaiknya tetap meneruskan proses yang sedang anda jalani atau malah sebaliknya. Atau anda merasa sampai di sini saja prosesnya karena mendapatkan ganjalan di tengah jalan dan dari perkara-perkara yang semisalnya...
Tetapi justru setelah anda meminta pertimbangan orang yang memiliki ilmu dalam masalah ini anda mendapatkan jawaban, saran atau solusi yang menyelisihi kesimpulan anda untuk maju atau mundur, meneruskan atau cukup sampai di sini saja. Perhatiakanlah hal ini wahai saudaraku...
Itulah keutamaan orang yang berilmu bisa melihat apa yang tidak kita lihat disebabkan ilmunya. Sehingga ia bisa memberikan pengarahan yang baik kepada anda. Ketimbang anda tidak meminta pertimbangan kepada orang yang berilmu.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.”
(Qs. Asy-Syura : 38)
Keempat : Berdoa kepada Allah...
Berdoa kepada Allah adalah sebuah ibadah yang sangat agung, sebab yang besar seseorang meraih apa yang ia inginkan...
Allah Ta’aala berfirman :
“ Dan apabila hamba – hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (Qs. al-Baqarah : 186)
“ Dan Rabbmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. al-Mukmin : 60)
Maka jangan lupakan berdoa, agar Allah memberi kemudahan kepada urusan kita...
Kelima : Jangan lupa shalat istikharah, kita serahkan urusannya sama Allah dengan disertai usaha yang maksimal..
Kebutuhan kita kepada Allah sangatlah besar di antaranya dengan melaksanakan shalat istikharah..., Ketika seorang hamba melakukannya menunjukkan kepercayaannya yang kuat kepada Allah, dan keterkaitan hatinya dengan apa yang ada di sisi-Nya serta ridha dengan segala keputusan-Nya...
Dari Jabir Radiyallahu ‘anhu menuturkan : “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami istikharah di dalam segala urusan kami, sebagaimana mengajari kami surat di dalam al-Qur’an, yaitu beliau bersabda :
‘Bila salah seorang di antara kalian mempunyai urusan maka shalatlah dua rakaat, lalu berdoalah : ‘Ya Allah, saya meminta dengan ilmu yang ada pada-Mu, pilihan yang terbaik bagiku, saya minta ditetapkannya urusanku ini, sesuai kehendak-Mu, saya memohon karunia-Mu yang Agung. Karena Engkaulah yang menetapkan sedang saya tidak bisa menetapkan. Engkau yang tahu sedang saya tidak tahu, Engkaulah yang Maha Tahu, tentang perkara-perkara ghaib.
Wahai Allah, bila menurut-Mu urusan ini baik bagi diriku, agamaku, penghidupanku, dan juga baik akibat-akibatnya, (dalam riwayat lain disebutkan : di masa sekarang atau di kemudian hari) maka tetapkanlah hal itu untukku. Namun, bila menurut-Mu urusan ini jelek bagi diriku, agamaku, penghidupanku, dan juga jelek akibat-akibatnya, (dalam riwayat lain disebutkan : di masa sekarang atau di kemudian hari) maka jauhkanlah hal itu dariku dan jauhkanlah aku dari hal itu. Tetapkanlah selalu kebaikkan untukku apapun keadaannya, lalu jadikanlah aku ridha kepadanya. Setelah membaca doa itu hendaklah ia menyebutkan keperluannya.’”
(HR. Bukhari).
Itulah di antara perkara yang harus diperhatikan ketika seseorang ingin melanjutkan proses yang sedang ia jalani. Semoga Allah memudahkan urusan kita semua. wa’allahu a’lam bis shawwab
(HR. Bukhari).
Itulah di antara perkara yang harus diperhatikan ketika seseorang ingin melanjutkan proses yang sedang ia jalani. Semoga Allah memudahkan urusan kita semua. wa’allahu a’lam bis shawwab
ESENSI SABAR
Ketahuilah bahwa Sabar itu ada dalam 3 Perkara dan itu patut kita laksanakan adanya:
Dalam kitab Bayan jilid 2 kurasan 21 Syaikh Ahmad Rifa’i menerangkan, bahwa sabar itu dalam 3 perkara ;
- Sabar menanggung Kesulitan, Penderitaan, Kesengsaraan dalam keta’atan. Ta’at dan ibadah akan dirasakan berat oleh hawa nafsu, disana dijumpai kesulitan,penderitaan dan kesengsaraan. Sehingga dalam ta’at dan ibadah diperlukan kesabaran.
- Sabar menaggung Kesukaran dalam taubat menjauhi maksiat. Seperti kita ketahui untuk sampai pada taubat yang benar bukanlah perkara mudah, paling tidak dibutuhkan proses yang kadang penuh liku dan cobaan. Seseorang yang sudah terbiasa maksiat dan tergerak untuk kembali ke jalan Allah (taubat) akan menemui beberapa rintangan, entah itu dari dalam diri sendiri yang sudah ketagihan atau dari factor exsternal, lingkungan pergaulan dan keluarga. Sangat wajar dalam proses menuju taubat ini dibutuhkan kesabaran.
- Sabar menanggung penderitaan dan kesengsaraan dalam menghadapi cobaan hidup atau musibah. Alam dunia adalah tempat ujian digelar, cobaan kekurangan sandang pangan, kehilangan harta benda bahkan nyawa orang-orang yang dikasihi,badai fitnah, cibiran tak jarang menyapa dalam kehidupan kita. Bukan Cuma cobaan lahir, juga ujian batin, seperti rasa gelisah, kwatir, takut pasti kadang kalanya akan menyelimuti hati,pikiran, jiwa kita. Dan semua itu harus dijalani dengan penuh kesabaran.
Pahala Sabar Dalam 3 Hal
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
” Orang-orang yang sabar disempurnakan pahalanya tanpa terhitung ” (Az zumar: 10)
Mengingat tidak mudahnya melakoni 3 kesabaran diatas, maka Allah SWT menganugerahi pahala bagi orang-orang yang mau dan mampu bersabar dengan pahala yang setimpal. Dengan tingkatan ;
- Sabar dalam ta’at dan ibadah mendapatkan pahala 300 derajat
- Sabar dalam taubat dan menjauhi maksiat mendapatkan pahala 600 derajat
- Sabar menanggung cobaan hidup dianugerahi pahala 900 derajat
Semoga kesabaran selalu dilimpahkan kepada kita dalam menghadapi kehidupan akhir jaman yang semakin berwarna permasalahannya ini, aamiin.
Wallahu 'Alam bishowab.
Disarikan dari:
◊ Kitab Bayan jilid 2 Karya Syaikh Ahmad Rifa’i
PERKARA NIKAH DAN WALI
Ada beberapa pembahasan dalam referensi tulisan ini yang mana dapat dijadikan rujukan dalam emmenuhi tingkatan pernikahan yang sah secara agama dan negara Indonesia,, itulah yang menjadi harapan tiap pasangan yang akan melangsungkan pernikahan serta yang telah memiliki pengetahuan dalam hal ini..Insya Allah..
Bahwa rukun nikah ada lima perkara:
1. Pengantin lelaki (zauj)
2. Pengantin perempuan (zaujah)
3. Wali pengantin perempuan
4. Dua orang saksi (Syahidami ‘adilaini)
5. Ijab dan Qabul (Shighat) (Al Iqna’ fi Hali Alfadli Abi Syja’: II/122).
Pasal 24 Syarat-Syarat Pengantin Lelaki
Bahwa syarat-syarat pengantin lelaki ada lima perkara:
1. Berumur baligh, bila masih kecil, maka bapak atau kakek qabulnya.
2. Berakal, bila hilang akalnya, maka bapak qabulnya.
3. Tidak senasab atau sesusuan (radla) dengan pengantin wanita
4. Dengan kehendak sendiri (ikhtiar). Tidak sah bila dipaksa.
5. Menentukan dan mengetahui nama wanita yang akan dinikahi, mengetahui akan status calon istrinya, perawan atau janda dan sudah lepas ‘iddah.
Pasal 25 Syarat-Syarat Pengantin Wanita
Syarat-syarat pengantin wanita sama dengan syarat-syarat pengantin lelaki:
1. Berusia baligh
2. Berakal
3. Tidak Senasab dan tidak Sesusuan dengan pengantin lelaki
4. Kehendak sendiri, tanpa adanya paksaan selain wali mujbir bapak/kakek
5. Mengetahui lelaki yang akan menikahi dirinya.
Pasal 26 Wali Ada Dua Macam
Bahwa wali yang akan menikahkan seorang wanita ada dua macam:
1. Wali Mujbir ialah: seorang wali yang boleh menikahkan orang wanita dengan cara memaksa meskipun ia tidak rela
2. Wali bukan Mujbir ialah selain wali Mujbir.
Pasal 27 Syarat-Syarat Wali Mujbir
Adapun syarat-syarat Wali Mujbir sebanyak ada enam perkara:
1. Bapaknya, kakeknya atau tuan hambanya yang menjadi Wali Mujbir. Adapun saudara dan pamannya bukanlah Wali Mujbir.
2. Status pengantin harus gadis perawan walaupun usia baligh.
3. Seorang lelaki yang adil, terkenal orang yang dapat dipercaya.
4. Dinikahkan kepada kufunya (lihat pasal kufu).
5. dinikahkan kepada seorang lelaki yang bukan musuh dengan anaknya.
6. Harus dengan Mahar Mutsil dan pengantin lelaki sanggup membayarnya.
Pasal 28 Tentang Wali Wanita Janda (Syayyibah)
Wali Mujbir berhak menikahkan seorang wanita bila statusnya belum baligh dan lagi perawan bukan janda. Tetapi kalau wanita tersebut ternyata janda, maka ayah dan kakeknya tidak berhak menikahkannya, baik izin maupun tidak, sama saja tidak sah. Apabila janda tersebut sudah baligh, maka sahlah menikahkannya dengan syarat izin dari padanya, karena janda yang belum baligh apa yang diucapkan tidak dapat dipercaya.
Wallahu 'Alam bishowab..
Wallahu 'Alam bishowab..
Dinukil dari Kitab Tabiyinal Islah
Langganan:
Postingan (Atom)





